Key Takeaways
- Penurunan kinerja tim bisa terjadi karena masalah individu, lingkungan kerja, atau komunikasi yang buruk.
- Masalah pribadi seperti kesehatan mental, kurang motivasi, atau kurangnya keterampilan bisa berdampak ke performa seluruh tim.
- Beban kerja berlebihan dan budaya kerja yang negatif juga bisa membuat tim kehilangan semangat.
- Psikotes dan analisis mendalam bisa membantu menemukan akar masalah performa dan jadi langkah awal perbaikan.
Saat performa tim mulai turun, reaksi paling umum biasanya menyalahkan individu. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Tim yang performanya menurun bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, dari masalah pribadi anggotanya, tekanan lingkungan kerja, sampai cara tim berkomunikasi satu sama lain.
Menurut kompasiana, kondisi fisik dan mental seseorang sangat memengaruhi bagaimana mereka bekerja. Kalau seseorang lagi sakit, stres berat, atau burnout, tentu mereka gak bisa kasih performa terbaik. Hal ini sering kali gak terlihat karena masalah pribadi sering dianggap urusan masing-masing. Padahal, dampaknya bisa menular ke seluruh tim, terutama kalau posisi orang tersebut krusial.
Masalah lain datang dari motivasi. Seperti dijelaskan di gajigesa.com, rasa bosan, kurangnya penghargaan, atau merasa kerjaannya gak berkembang bisa bikin seseorang kehilangan semangat. Dan saat satu orang kehilangan motivasi, sering kali tim juga ikut terdampak. Atmosfer kerja jadi lesu dan gak produktif.
Di sisi lain, faktor lingkungan juga memegang peran besar. Beban kerja yang gak masuk akal, target terlalu tinggi, atau sistem yang gak efisien bisa bikin tim kewalahan. Menurut lifeskills.id, tim yang bekerja dalam tekanan terus-menerus tanpa dukungan yang cukup cenderung mengalami penurunan produktivitas dan semangat kerja.
Lalu ada juga masalah budaya kerja yang gak sehat—lingkungan penuh gosip, persaingan gak sehat, dan minim kolaborasi. Ini bikin suasana kerja jadi gak nyaman, dan rasa aman dalam tim bisa hilang. Hal-hal kayak gini sering gak kelihatan, tapi sebenarnya jadi pemicu utama kenapa tim gak jalan.
Dari semua penyebab itu, komunikasi adalah benang merahnya. Tim yang gak punya jalur komunikasi yang jelas, jarang feedback, atau sering miskom, cenderung kerja gak sinkron. Hasilnya? Target gak tercapai, dan semua merasa frustrasi.
Untuk bisa mengurai masalah yang kompleks ini, dibutuhkan alat yang bisa bantu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Salah satunya adalah lewat Psikotes Premium dari Life Skills x Satu Persen. Dengan psikotes, perusahaan bisa melihat kondisi psikologis dan karakter tiap anggota tim, lalu membandingkannya dengan kebutuhan kerja saat ini. Dari situ, solusi bisa lebih tepat sasaran.
Kalau Anda seorang HR, pemimpin tim, atau bahkan anggota tim yang merasa stuck, mengenali penyebab turunnya performa adalah langkah pertama buat bangkit lagi. Artikel ini akan lanjut membahas lebih dalam kenapa semua ini bisa terjadi, dan apa yang bisa dilakukan.

Penurunan Kinerja Bukan Masalah Tunggal, Ini Penyebab Utamanya
Ketika kinerja sebuah tim menurun, banyak orang langsung mencari “siapa yang salah?” Tapi, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah “kenapa ini bisa terjadi?” Dalam banyak kasus, performa tim bukan turun karena satu kesalahan besar, tapi karena kumpulan masalah kecil yang gak disadari dan dibiarkan terus menerus.
Masalah Individu yang Tidak Terlihat Tapi Berdampak Besar
Kita mulai dari faktor personal. Kesehatan mental dan fisik seorang anggota tim sangat mempengaruhi kemampuannya dalam bekerja. Orang yang sedang kelelahan, stres, atau bahkan mengalami gangguan psikologis ringan sering kali gak bisa fokus dan cepat merasa kewalahan. Ini diperkuat oleh kompasiana yang menyebut bahwa masalah pribadi bisa jadi pemicu utama turunnya performa kerja.
Selain itu, kurangnya motivasi juga sangat berperan. Ketika seseorang merasa pekerjaannya tidak bermakna, tidak mendapatkan tantangan, atau tidak dihargai secara finansial maupun emosional, mereka akan mulai bekerja dengan mode “asal jadi”. Hal ini bukan karena malas, tapi karena mereka kehilangan koneksi dengan tujuan pekerjaannya. Seperti yang disebut di gajigesa.com, motivasi adalah salah satu pendorong utama produktivitas kerja.
Tak kalah penting, ada pula masalah keterampilan. Kadang, seseorang diminta mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya. Akhirnya, pekerjaan jadi lambat, hasil kurang maksimal, dan bisa menciptakan frustrasi yang berdampak ke rekan-rekan satu timnya. Di sinilah pelatihan dan asesmen kemampuan sangat penting untuk menyesuaikan peran dengan keahlian.
Lingkungan Kerja Bisa Jadi Pemicu Stres Kolektif
Kalau individu sudah mulai kesulitan, lalu ditambah tekanan dari lingkungan kerja yang gak sehat, efeknya bisa berlipat ganda. Misalnya, beban kerja yang tidak realistis, sistem kerja yang tidak jelas, atau manajemen yang kurang memberikan dukungan. Menurut lifeskills.id, manajemen yang tidak transparan atau tidak komunikatif dapat memperburuk situasi tim.
Apalagi jika budaya kerja yang terbentuk mengarah ke toxic: ada gosip, favoritisme, atau persaingan yang tidak sehat. Situasi seperti ini bisa merusak kepercayaan dalam tim, membuat orang enggan berkolaborasi, dan akhirnya memilih bekerja sendiri-sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, penting bagi tim atau organisasi untuk melakukan evaluasi mendalam. Salah satu alat yang bisa digunakan adalah Psikotes Premium. Melalui psikotes, bisa terlihat potensi masalah seperti ketidakcocokan karakter antar anggota, motivasi yang rendah, atau stres kerja yang tidak tersampaikan. Hasil psikotes bisa membantu tim HR atau manajer untuk menyusun intervensi yang tepat—baik dari segi pelatihan, rotasi kerja, hingga perbaikan sistem komunikasi tim.

Langkah Praktis untuk Mengembalikan Performa Tim
Menurunkan performa tim itu ibarat demam—bukan penyakitnya, tapi tanda bahwa ada yang gak beres. Jadi, jangan buru-buru kasih “obat cepat”, tapi coba analisis penyebab utamanya. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi penurunan performa tim secara strategis:
Lakukan Evaluasi Menyeluruh dengan Pendekatan Psikologis
Bukan hanya evaluasi kerja harian, tapi juga evaluasi dari sisi psikologis. Misalnya, bagaimana kondisi emosi anggota tim? Apa yang mereka rasakan terhadap pekerjaannya? Apakah mereka merasa dihargai? Di sinilah peran psikotes sangat krusial. Anda bisa menggunakan Psikotes Premium dari Life Skills x Satu Persen untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kondisi anggota tim.
Bangun Komunikasi Dua Arah yang Aktif
Komunikasi itu bukan hanya soal memberi perintah. Pemimpin yang terbuka terhadap feedback dan menyediakan ruang aman untuk timnya berbicara justru bisa memperbaiki banyak hal. Terkadang, solusi terbaik datang dari orang-orang yang paling sering menghadapi masalahnya langsung.
Revisi Target dan Ekspektasi Secara Realistis
Periksa ulang apakah target kerja tim selama ini realistis dan sesuai dengan kapasitas yang ada. Beban kerja yang terus menumpuk tanpa waktu istirahat atau penghargaan bisa jadi penyebab utama kelelahan tim. Buat ruang untuk pemulihan dan evaluasi secara berkala.
Fasilitasi Pengembangan Keterampilan
Jika salah satu penyebabnya adalah kurangnya keterampilan, maka training dan pengembangan diri harus diberikan. Misalnya, kelas komunikasi, manajemen waktu, atau keterampilan teknis tertentu. Anda bisa merekomendasikan anggota tim untuk mengikuti program seperti Kelas Public Speaking dari Life Skills jika mereka butuh meningkatkan kepercayaan diri dalam presentasi atau rapat.
Bangun Budaya Kerja yang Sehat dan Supportif
Budaya kerja dibentuk dari nilai-nilai dan perilaku harian. Mulailah dari hal sederhana seperti mengapresiasi hasil kerja tim, tidak menormalisasi lembur, hingga menciptakan ruang kerja yang bebas dari gosip dan tekanan emosional.
Kesimpulan

Ketika performa tim menurun, reaksi spontan biasanya langsung menuntut perbaikan. Tapi kenyataannya, kinerja tidak bisa naik begitu saja kalau akar masalahnya belum dikenali. Performa yang kuat dibangun dari tim yang sehat—secara mental, emosional, dan profesional.
Jika Anda adalah seorang manajer, HR, atau bahkan anggota tim yang merasa performa tim mulai goyah, langkah terbaik bukan menyalahkan, tapi mengevaluasi. Penurunan kinerja bisa jadi sinyal bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki, bukan sekadar individu yang harus diganti. Inilah kenapa penting untuk menggunakan pendekatan yang lebih dalam, seperti Psikotes Premium dari Life Skills x Satu Persen.
Hubungi kami untuk Konsultasi:
- WhatsApp: 0851-5079-3079
- Email: